Satu Tahun yang Sangat Menyebalkan


Aku tak tahu, suatu saat ini akan menjadi hal yang aku syukuri atau tetap menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Mungkin aku akan lebih memilih terkungkung dalam duniaku daripada harus menjelajah tapi berkawan dengan kesedihan dan tekanan.

 

“Sibuk banget, ngejar seminar proposal ya?” hiruk tanya teman-temanku saat menemuiku sedang menatap layar laptop.

 

“Iya nih, biar cepet wisuda, haha” jawabku yang sebenarnya bergurau. Entah mereka mengetahui aku hanya bercanda atau malah percaya dengan omong kosongku.

 

Tidak, aku tidak seambisius itu, aku adalah makhluk mager yang berlabel aktivis. Biar dikira produktif padahal ikut organisasi sana-sini untuk menutupi kemalasanku. Apa yag ada di pikiran orang-orang tak sama dengan yang kukerjakan pada layar laptopku.

“Kamu lagi kuliah, to?” Tanya ibuku, tetangga, atau saudara, “lagi ngapain kok laptop-an terus?”

 

“Lagi ngerjain tugas, Bu” jawabku malas menjelaskan.

 

Aku malas mereka mengetahui kalau aku ikut organisasi di kampus. Banyak hal yang sebenarnya aku tutupi di rumah. Aku tidak pernah bercerita aku ikut organisasi apa, aku ikut komunitas  apa, punya jabatan apa di organisasi. Aku tahu hal-hal itu tidak akan membuat bangga siapapun yang mengenalku, bisa-bisa malah aku yang bertambah tekanan, tekanan mental misalnya.

 

Setahun lalu, entah hasutan setan mana yang membawaku pada dunia yang sekarang aku singgahi. Semuanya berbeda, semuanya tak seperti yang kubayangkan dan harapkan, tapi satu hal yang benar: teman-teman kuliahku menilaiku dengan negative dan semakin meremehkanku. Aku tidak mau membuktikan apapun, aku adalah aku, dengan segala sifat dan sikapku.

 

Lagian ini juga bukan kemauan maupun ambisiku, aku bertahan bukan karena kenyamanan tapi hanya keterpaksaan. Mungkin di awal aku terkesan sok pahlawan, ternyata aku yang semakin memperburuk segalanya, aku membuat semuanya berantakan, tak terkecuali hidupku. Aku hanya bisa membayangkan kalau setahunku tidak disibukkan dengan tugas-tugas organisasi, aku bisa nyambi bekerja seperti teman-temanku, aku punya banyak sisa energi untuk berbahagia, aku tidak perlu begadang hanya demi sebuah berita yang tidak tahu dibaca orang atau tidak.

 

Aku merasa terjebak, tapi aku ragu kalau ini adalah jalan dari Allah. Aku ragu ini hanyalah nafsuku belaka yang membuatku semakin jauh dari Rabb-ku. Teman-temanku berubah, aku pun berubah. Tak ada lagi lantunan ayat selepas magrib. Tak ada lagi dzikir untuk memulai dan mengakhiri hari. Pengingat-pengingat itu, semakin jauh kudengar. Aku hanya bisa menggenggam satu temanku agar terus mengingatkanku jika futur. Sayangnya, kefuturan ini tak henti menggerogoti jiwa yang hampir mati. Jangan-jangan aku hanyalah mayat yang jenazahnya masih berjalan di atas bumi.

 

Lampung Tengah, 17 November 2022

Pengen cepet wisuda

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Mulai

Kedatanganmu Ternyata Ujian Keimanan