Kedatanganmu Ternyata Ujian Keimanan
“Tuh kan sakit hati lagi” “Tuh kan sedih lagi” “Tuh, suruh siapa sok-sokan buka hati, sok-sokan bilang nggak akan baper” Begitulah cacian dan makian yang terus kuperoleh dari mulutku sendiri. Aku semakin dibuat menyesal dan kesal. Lagipula, keputusanku untuk tidak pacaran atau menjalin hubungan spesial lainnya dengan laki-laki itu sudah benar, tapi malah aku sendiri yang melanggar. Sejujurnya aku ingin menyalahkanmu, menyalahkanmu soal apapun, pokoknya kamu yang salah. Mengenalkan diri dibumbui perasaan. “Makanya jangan suka mainin perasaan anak orang,” itu kan kalimat yang pernah aku ucapkan ke kamu saat kamu curhat kalau ada perempuan yang baper sama kamu, kamu bilang kalau kamu bingung dan jadi nggak enak. Kamu malah menjalin hubungan dengan perempuan itu. Kukira akan dengan cepat kalian selesai, ternyata lama juga ya. Aku jadi semakin yakin bahwa kedatanganmu dalam semestaku hanyalah ujian. Tuhanku ingin mengujiku apakah aku benar-bena...