Kedatanganmu Ternyata Ujian Keimanan

“Tuh kan sakit hati lagi”

“Tuh kan sedih lagi”

“Tuh, suruh siapa sok-sokan buka hati, sok-sokan bilang nggak akan baper”

 

Begitulah cacian dan makian yang terus kuperoleh dari mulutku sendiri. Aku semakin dibuat menyesal dan kesal. Lagipula, keputusanku untuk tidak pacaran atau menjalin hubungan spesial lainnya dengan laki-laki itu sudah benar, tapi malah aku sendiri yang melanggar.

 

Sejujurnya aku ingin menyalahkanmu, menyalahkanmu soal apapun, pokoknya kamu yang salah. Mengenalkan diri dibumbui perasaan.

 

“Makanya jangan suka mainin perasaan anak orang,” itu kan kalimat yang pernah aku ucapkan ke kamu saat kamu curhat kalau ada perempuan yang baper sama kamu, kamu bilang kalau kamu bingung dan jadi nggak enak.

 

Kamu malah menjalin hubungan dengan perempuan itu. Kukira akan dengan cepat kalian selesai, ternyata lama juga ya. Aku jadi semakin yakin bahwa kedatanganmu dalam semestaku hanyalah ujian. Tuhanku ingin mengujiku apakah aku benar-benar kokoh dengan prinsip dan aturan-Nya atau aku justru terbawa hawa nafsuku. Dan… ternyata aku kalah. Kedatanganmu membuatku tahu seberapa besar imanku, lemah sekali.

 

“Dorr!!!” Tiba-tiba saja seorang perempuan datang dan mengagetkanku, “assalamualaikumm!!”


Aku bergegas memindah tab pada monitor laptopku. Aku tidak mau orang lain mengetahui curhatanku yang agak alay ini.


“Waalaikumsalam, bisa nggak, dateng tanpa perlu ngagetin gitu?” tanyaku kesal kepada seseorang yang ternyata adalah Rizka, sahabatku. Kami satu kampus tapi berbeda jurusan, tapi kami pernah satu kelas waktu SMA.

 

Meskipun kami sahabatan, aku adalah tipe orang yang jarang sekali curhat perihal perasaan, bagiku perasaan yang dibagikan sama saja memupuk perasaan itu agar tumbuh lebih besar, dan aku tidak mau hal itu.

 

“Serius banget bos, ngerjain apaan, sih? Skripsi? Udah dapet berapa bab?”

“Nggak, nggak lagi ngerjain skripsi, lagi nyari cuan”

 “Dih, lagi ada orderan desain? Dari siapa?”

“Astaghfirullah!!”

 

Aku lupa kalau aku ada deadline orderan desain dari teman sekelasku. Dia mau buka usaha makanan kemudian memintaku untuk membuatkan desain banner untuk dipasang di kedainya. Dia sih tidak memberikan tenggat waktu kapan desainnya harus jadi, toh dia juga mau buka usaha di kampung halamannya dan saat ini dia sedang tinggal di kosan karena sedang mengurus berkas-berkas untuk keperluan penelitian skripsinya. Tetapi, tetap saja aku tidak enak kalau dia harus menunggu lama.

 

“Kenapa kok malah kaget gitu?”

“Gue lupa kalau punya tanggungan desain, untung lu ngingetin”

“Lah bukannya tadi lu bilang lagi nyari cuan, lu bohong ya?”

“Ssssttt!!! Diem, gue mau fokus!”


Aku memerintahkan Rizka untuk diam dan jangan mengangguku, ya itu alibi saja sih, supaya dia nggak nanya-nanya soal apa yang aku kerjakan sebelum dia datang. Dia mendesah sebal, dan mengatakan mau pesan minuman dan makanan sambil menemaniku menyelesaikan desain. Tempat yang kami duduki ini, lokasinya berseberangan dengan kampus, semacam rumah makan gitu. Tetapi yang datang rata-rata mahasiswa karena memang lokasinya yang sangat mudah dijangkau bahkan hanya dengan berjalan kaki dari kampus. Tempatnya sebenarnya outdoor tetapi semi privat. Jadi lumayan nyaman untuk mengerjakan tugas ataupun menyendiri.

***

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Titik Mulai

Satu Tahun yang Sangat Menyebalkan