Postingan

Saat Semua Terasa Kosong dan Hampa, Izinkan Aku Kembali Menemukan-Mu.

Kosong. Hampa. Katanya, aku ini sedang beribadah dan memuji Rabbku. Tapi aku seperti tidak merasakan apa-apa. aku hanya melakukan gerakan teratur dan berulang setiap harinya. Membaca firman-Nya yang seringkali aku tak paham maknanya. Benar-benar kosong, aku kehilangan esensi dari apa yang aku lakukan setiap harinya.  Benar, aku seolah berbadah tapi aku tak mendapatkan apa-apa. Tuhan itu seperti apa? pertanyaan seperti ini terkadang muncul saat rasanya aku sedang memuji-Nya tapi aku tak kenal siapa yang aku puja dan kepada siapa aku menghamba. Allah, sungguh jauhkah aku dari-Mu?. Tak kenal dengan penciptaku. Aku tahu tuhanku Engkau Ya Allah, tapi aku seperti tak mengenal-Mu. Sholatku seolah hanya gerakan rutin tak berarti. Bacaan Al-Qur'anku seolah hanya formalitas seorang muslim. Aku yang salah, harusnya aku mempelajari dan mencari tahu tentang-Mu dan agamaku. Agar aku pantas menjadi hamba-Mu.  Ya Allah, doaku tak pernah  berubah. Dunia semakin berwarna rupa, maksiat yang...

Kedatanganmu Ternyata Ujian Keimanan

“Tuh kan sakit hati lagi” “Tuh kan sedih lagi” “Tuh, suruh siapa sok-sokan buka hati, sok-sokan bilang nggak akan baper”   Begitulah cacian dan makian yang terus kuperoleh dari mulutku sendiri. Aku semakin dibuat menyesal dan kesal. Lagipula, keputusanku untuk tidak pacaran atau menjalin hubungan spesial lainnya dengan laki-laki itu sudah benar, tapi malah aku sendiri yang melanggar.   Sejujurnya aku ingin menyalahkanmu, menyalahkanmu soal apapun, pokoknya kamu yang salah. Mengenalkan diri dibumbui perasaan.   “Makanya jangan suka mainin perasaan anak orang,” itu kan kalimat yang pernah aku ucapkan ke kamu saat kamu curhat kalau ada perempuan yang baper sama kamu, kamu bilang kalau kamu bingung dan jadi nggak enak.   Kamu malah menjalin hubungan dengan perempuan itu. Kukira akan dengan cepat kalian selesai, ternyata lama juga ya. Aku jadi semakin yakin bahwa kedatanganmu dalam semestaku hanyalah ujian. Tuhanku ingin mengujiku apakah aku benar-bena...

Satu Tahun yang Sangat Menyebalkan

Aku tak tahu, suatu saat ini akan menjadi hal yang aku syukuri atau tetap menjadi penyesalan terbesar dalam hidupku. Mungkin aku akan lebih memilih terkungkung dalam duniaku daripada harus menjelajah tapi berkawan dengan kesedihan dan tekanan.   “Sibuk banget, ngejar seminar proposal ya?” hiruk tanya teman-temanku saat menemuiku sedang menatap layar laptop.   “Iya nih, biar cepet wisuda, haha” jawabku yang sebenarnya bergurau. Entah mereka mengetahui aku hanya bercanda atau malah percaya dengan omong kosongku.   Tidak, aku tidak seambisius itu, aku adalah makhluk mager yang berlabel aktivis. Biar dikira produktif padahal ikut organisasi sana-sini untuk menutupi kemalasanku. Apa yag ada di pikiran orang-orang tak sama dengan yang kukerjakan pada layar laptopku. “Kamu lagi kuliah, to?” Tanya ibuku, tetangga, atau saudara, “lagi ngapain kok laptop-an terus?”   “Lagi ngerjain tugas, Bu” jawabku malas menjelaskan.   Aku malas mereka mengetahui...

Titik Mulai

Gambar
Assalamualaikum… Hi world!      I’m Nurul Latifah, you can call me Nurul, Latifah, Nur, Ifah, Ipeh, or anything if you like. Entah, biasanya penulis selalu mempunyai nama pena, tetapi aku tidak, ya karena aku memang bukan penulis. Tapi, sebentar, bahkan untuk menentukan aku ingin menjadi penulis atau tidak pun aku tidak tahu. Yang jelas, aku suka menulis, mengetik, membaca, tetapi aku juga suka jika tulisanku menghasilkan uang. Hehe.       Kembali pada, mengapa aku tidak memiliki nama pena? Ya salah satunya karena aku tidak kreatif untuk mencari bahkan menciptakan nama untuk diriku sendiri. Salah duanya, karena aku ingin dunia tahu bahwa aku ada di dunia ini, bahwa seorang Nurul Latifah ada di dunia ini, hidup, dan bertumbuh. Seorang manusia yang bisa merasakan sedih, senang, takut, cemas, dan perasaan tidak jelas lainnya.         Aku sudah sering menulis di buku harianku, caption Instagram, dan note in my phone. Jarang aku mau...